Text
Memahami Taqdir Secara Rasional Imani : Sebuah Kajian Analisis terhadap Wahyu dengan Pendekatan Konteks Alam Fisis
Ketika itu, salah seorang santri bertanya: Mengapa Allah itu kok tidak adil; ada manusia yang (ditakdirkan) menjadi orang yang beriman, beramal saleh lagi kaya sehingga kelak di akhirat akan memperoleh balasan surga; sedang yang lain ditaqdirkan menjadi orang yang miskin dan kafir sehingga kelak di akhirat akan masuk neraka buat selama- lamanya? Kelihatannya kok seperti main-main saja. Bagaimana menurut pendapat Ustadz? Pertanyaan tersebut pada saat itu ia bertanggung jawab demikian: Ketahuilah, bahwa Allah sendiri telah berfirman: "Laisa kamitslihi syaiun" (Tidak ada sesuatu pun yang sama dengan-Nya - Qs.42: 11). Jadi berdasarkan ayat ini, bahwa Allah tidak sama dengan (makhluk) apa pun yang dia ciptakan sendiri. Demikian juga sifat-sifat Allah adalah tidak sama dengan sifat-sifat makhluk-Nya, termasuk sifat “adil” yakni bahwa keadilan Allah itu tidak sama dengan keadilan makhluk-Nya. Di samping itu manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang lemah (Qs. 4:28). Maka karena kelemahan dan keterbasannya itulah ia tidak mampu dan tidak dapat menjangkau hakekat makna taqdir-Nya juga keadilan-Nya. Maka masalah taqdir sebaiknya tidak usah didiskusikan karena termasuk hal-hal yang tidak mungkin dijangkau oleh akal manusia.
| B231028 | 2X3.6 IMR m | Perpustakaan Al-Adzkar | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain