Text
Mencurigai Kekuasaan
Reformasi sudah berjalan sebelas tahun. Meski tampak ada perbaikan, namun dirasakan masih belum signifikan. Reformasi berjalan setengah hati. Penyebabnya, karena para politisi masih terbelenggu kekuasaan. Isu "kepentingan rakyat" atau "kesejahteraan rakyat" hanya jargon kampanye untuk mengejar tampuk kekuasaan. Setelah kekuasaan didapat, rakyat pun ditinggalkan. Sejatinya kekuasaan adalah sarana menyejahterakan rakyat, karena untuk itulah sesungguhnya fungsi kekuasaan dalam politik. Kekuasaan dapat melakukan apa yang tak dapat dilakukan kebanyakan orang. Namun, kekuasaan yang "lurus" membutuhkan sejumlah syarat, di antaranya adalah adanya check and balance. Syarat ini akan terpenuhi ketika civil society tumbuh dengan kuat. Kita, bangsa Indonesia, memiliki pengalaman pahit hidup di bawah rejim otoriter Orde Baru. Oleh karena itu setiap komponen bangsa harus berupaya agar jarum sejarah tak kembali berbalik arah. Kesadaran itu terutama harus dimiliki oleh kaum muda sebagai pemilik saham terbesar gerakan reformasi. Jangan sampai kaum muda turut terjebak pragmatisme politisi yang mengejar kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Salah satu upaya yang mungkin dilakukan adalah dengan mempublikasikan pemikiran-pemikiran kritis, terutama yang lahir dari kalangan muda. Penerbitan buku berjudul Mencurigai Kekuasaan yang ditulis oleh Sdr. Fitron Nur Ikhsan ini merupakan salah satu upaya dihajatkan untuk itu. Semoga gagasan segar yang disampaikan Sdr. Fitron Nur Ikhsan memberi inspirasi untuk terus "mencurigai" kekuasaan
| B230421 | 320.01 FIT | Perpustakaan Al-Adzkar | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain